Selasa, 25 Agustus 2026

Kampus Harus Menjadi Mimbar Kebebasan

Photo Author
Heru Kurniawan, SekitarSulteng.com
- Senin, 17 Agustus 2026 | 11:37 WIB
Presiden Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Palu (Abd. Karim S. Noho)
Presiden Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Palu (Abd. Karim S. Noho)

Penolakan tersebut bukan berarti menolak disiplin. Disiplin tetap penting dalam pendidikan. Namun, disiplin akademik berbeda dengan kepatuhan struktural. Mahasiswa harus disiplin terhadap ilmu pengetahuan, etika akademik, dan tanggung jawab sosial, bukan sekadar tunduk pada perintah.

Kita juga harus membedakan antara keterlibatan individu berlatar belakang militer dengan militerisasi institusi. Seseorang dengan pengalaman militer tentu dapat memiliki kemampuan kepemimpinan yang bermanfaat bagi sebuah organisasi. Namun, karakter dan kultur perguruan tinggi harus tetap berpijak pada prinsip akademik.

Karena itu, URI harus mampu membuktikan bahwa kehadiran pemimpin berlatar belakang militer tidak akan menghilangkan kebebasan akademik. Supremasi sipil, otonomi keilmuan, kebebasan mimbar akademik, serta hak mahasiswa untuk menyampaikan kritik harus tetap dijamin.

Baca Juga: Pastikan Standar Dapur Terpenuhi, Korwil Moh Fahri Tata Layout SPPG Se-Kabupaten Parigi Moutong

Pemerintah juga perlu membuka ruang dialog dengan mahasiswa, sivitas akademika, masyarakat sipil, dan para ahli pendidikan dalam membangun URI. Transparansi mengenai desain kelembagaan dan tata kelola diperlukan agar universitas baru ini tidak hanya kuat secara struktural, tetapi juga sehat secara akademik.

Sebab, membangun universitas bukan sekadar membangun gedung dan mencetak lulusan. Membangun universitas berarti membangun tradisi berpikir. Ilmu pengetahuan tidak berkembang karena semua orang berpikir sama. Ilmu berkembang karena ada pertanyaan, perdebatan, penelitian, kritik, dan keberanian menguji suatu kebenaran.

Mahasiswa di mana pun belajar, termasuk mahasiswa URI, harus tetap memiliki ruang untuk berpikir independen, menyampaikan kritik, dan berdiri bersama kepentingan rakyat secara bertanggung jawab. Indonesia membutuhkan generasi yang berani berpikir, bukan sekadar patuh. Membutuhkan pemimpin yang mampu mempertanyakan kebijakan ketika kepentingan rakyat terancam. Pada akhirnya, kampus harus tetap menjadi mimbar kebebasan. Bukan ruang komando.

Baca Juga: Malam Ramah Tamah Warnai Penutupan Dies Natalis ke-45 Universitas Tadulako

Halaman:

Editor: Heru Kurniawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X