SEKITAR SULTENG - Problem keracunan merupakan pembahasan sentral terkait program MBG, selain merupakan program baru dari pemerintah saat ini tentunya menjadi keresahan baru juga jika program tidak dikawal dengan baik oleh berbagai elemen masyarakat.
Karena jika melihat salah satu faktor lahirnya program ini adalah karena bentuk asta cita pemerintahan Prabowo-Gibran untuk meningkatkan kualitas gizi anak Indonesia, ketahanan pangan, pemberdayaan ekonomi masyarakat (UMKM) dan lain sebagainya.
Badan Gizi nasional (BGN) hari ini berupaya sekuat tenaga untuk mengawal program ini dengan baik, mulai dari SOP diperketat, seluruh administrasi dan transparansi publik dilakukan agar MBG dapat dipantau oleh berbagai pihak.
Bahkan pemecatan tidak segan-segan dilakukan oleh pimpinan BGN jika kepala SPPG tidak becus mengawal MBG, jika terdapat keracunan dan penyimpangan lainnya dan semua unsur BGN loyal terhadap pimpinan, siap menerima keputusan apa saja dari atasan tanpa ada pembelaan.
Olehnya jika dilihat dengan saksama penyebab keracunan MBG tidak hanya disebabkan oleh kelalaian SOP dan bakteri penyebab makanan tidak layak konsumsi.
Hingga saat ini semua dapur SPPG sudah berusaha menaati SOP dan melakukan pencegahan dini jika terdapat kejanggalan dari sisi produksi.
Baca Juga: Pemprov Sulteng Dorong 1300 Lulusan Untad Jadi Penggerak Pembangunan Daerah
Jika dilihat pada awal berjalannya program MBG kasus keracunan memang sempat meningkat, tentu alasan logisnya penyesuaian SOP dan perbaikan secara terus menerus, akhirnya kasus keracunan tersebut dapat ditekan dan system operasi MBG sudah berjalan dengan baik.
Ternyata tantangan selanjutnya adalah problem pada tubuh BGN itu sendiri, dimana pemimpin BGN pusat yang bermasalah kemudian diamankan, maka terjadilah kesenjangan kepemimpinan.
Dengan demikian masalah ini berpengaruh pada system dan tatakelola MBG yang ada, sehingga ditunjuklah pemimpin yang baru, kemudian penyesuaian kembali.
Baca Juga: Sempat Tegang, Pria Diduga ODGJ Berusaha Masuk Minimarket di Poso
Hingga saat ini kasus keracunan kembali meningkat, tentunya perlu dianalisa dengan baik, apakah penyebabnya semata-mata karena kelalaian SOP dan bakteri? atau ada sesuatu dibalik ini?
Artikel Terkait
Wisuda ke-137 Untad, Rektor Ajak 1.300 Lulusan Beri Dampak bagi Masyarakat
HUT ke-74 Donggala, Batik Rando’o dan Layanan Darurat 112 Resmi Diluncurkan
Komnas HAM Sulteng dan Pemkot Palu Perkuat Sinergi Edukasi Hak Asasi Manusia
Final FR Cup Volleyball Tournament 2026 di Ampibabo Berlangsung Meriah