SekitarSulteng.com, Palu – Fakultas Kedokteran Universitas Tadulako (FK Untad) kembali melahirkan tenaga medis baru melalui Pelantikan dan Pengambilan Sumpah Dokter Periode Mei 2026. Sebanyak 22 dokter baru resmi dilantik dan diambil sumpahnya dalam prosesi yang berlangsung di Aula Fakultas Kedokteran Untad, Rabu (19/8/2026).
Prosesi tersebut menjadi momentum penting bagi para lulusan setelah menyelesaikan pendidikan kedokteran selama kurang lebih lima hingga enam tahun. Dengan pengambilan sumpah itu, para lulusan resmi memasuki tahap baru sebagai dokter yang akan mengemban tanggung jawab profesional dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
Kegiatan tersebut dihadiri Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Untad, para Wakil Dekan Fakultas Kedokteran, Ketua Komkordik, Ketua Program Studi Profesi Dokter, serta perwakilan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Sulawesi Tengah dan IDI Kota Palu.
Dalam sambutan Rektor Untad yang diwakili Wakil Rektor Bidang Keuangan dan Umum, Prof. Dr. Ir. M. Rusydi, M.Si., disampaikan bahwa sumpah dokter bukan sekadar prosesi akademik, melainkan ikrar moral dan profesional yang akan menjadi pedoman dalam menjalankan profesi.
Menurutnya, seorang dokter tidak cukup hanya memiliki kemampuan klinis dan penguasaan ilmu kedokteran. Dokter juga harus mampu menghadirkan harapan, memberikan rasa aman, mendengarkan pasien dengan tulus, serta memperlakukan setiap pasien dengan penuh penghormatan dan martabat.
“Dokter yang hebat bukan hanya dokter yang memiliki pengetahuan klinis yang luas dan keterampilan yang baik, tetapi yang mampu menghadirkan harapan, memberikan rasa aman, mendengarkan dengan tulus, dan memperlakukan setiap pasien sebagai manusia yang memiliki martabat,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan para dokter baru untuk terus meningkatkan kompetensi di tengah perkembangan teknologi kesehatan yang semakin pesat. Kehadiran kecerdasan buatan (AI), telemedicine, bioteknologi, dan berbagai inovasi kesehatan lainnya menuntut dokter untuk terus belajar dan beradaptasi.
Meski demikian, perkembangan teknologi tidak boleh menghilangkan sisi kemanusiaan dalam pelayanan kesehatan. Empati, kepedulian, komunikasi yang baik, dan sentuhan kemanusiaan tetap menjadi fondasi utama profesi dokter.
Para dokter baru juga didorong untuk berkontribusi dalam pembangunan kesehatan di Sulawesi Tengah. Berbagai tantangan, seperti stunting, kesehatan ibu dan anak, keterbatasan tenaga medis di daerah, hingga kondisi geografis dan kerawanan bencana, membutuhkan kehadiran tenaga kesehatan yang siap mengabdi di tengah masyarakat.
“Jadilah dokter yang bukan hanya hadir di rumah sakit dan pusat pelayanan kesehatan, tetapi juga di tengah masyarakat, daerah terpencil, dan wilayah kepulauan yang sangat membutuhkan bantuan,” pesannya.
Sementara itu, Dekan Fakultas Kedokteran Untad, Dr. dr. Sabir, M.Kes., menyampaikan apresiasi kepada 22 dokter baru yang telah menyelesaikan seluruh tahapan pendidikan profesi. Ia menuturkan bahwa perjalanan menjadi dokter bukanlah proses yang mudah karena mahasiswa harus melewati pendidikan akademik, rotasi klinik, jaga malam, hingga ujian kompetensi.
Dengan bertambahnya 22 lulusan pada periode ini, jumlah alumni dokter Fakultas Kedokteran Untad kini mencapai 1.129 orang, sedangkan alumni Sarjana Kedokteran telah melampaui 1.500 orang.
Dekan menegaskan bahwa gelar dokter bukanlah akhir dari proses belajar, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar karena profesi ini berkaitan langsung dengan keselamatan dan kehidupan manusia.
“Menjadi dokter tidak hanya sekadar pintar mendiagnosis, tetapi juga harus mampu menyembuhkan dengan empati dan senyuman bagi pasien yang datang membawa kecemasan,” katanya.