SEKITAR SULTENG — Untuk memastikan bahwa pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) berlangsung dengan baik, Koordinator Wilayah (Korwil) Moh Fahri melakukan penataan dan evaluasi atas tata letak dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di seluruh area Kabupaten Parigi Moutong berdasarkan dari Direktur Pemantauan dan Pengawasan Wilayah III.
Penataan layout tersebut bertujuan untuk memperkuat tata Kelola operasional SPPG di wilayah Kabupaten Parigi Moutong agar tidak terjadi penyimpangan SOP yang telah ditentukan dalam Juknis BGN.
Moh Fahri mengatakan penataan layout bukan sekadar persoalan estetika atau kerapian ruangan. Tata letak dapur memiliki kaitan erat dengan alur kerja, kebersihan, keamanan pangan, efisiensi tenaga kerja, serta pengendalian risiko kontaminasi silang.
Baca Juga: Kelor Diolah Jadi Beragam Produk Unik Khas Kota Palu
"Dari setiap dapur SPPG Parigi Moutong masih terdapat dapur yang bersilangan sehingga dapat menyebabkan ketidak amanan proses produksi MBG bahkan dapat menyebabkan keracunan karena kontaminasi silang" ujar Moh Fahri.
Menurutnya, dapur SPPG merupakan salah satu bagian penting dalam keberhasilan pelaksanaan MBG. Karena itu, standar pengelolaan dapur perlu mendapatkan perhatian yang serius, mengingat makanan yang diproduksi akan dikonsumsi oleh masyarakat dalam jumlah besar.
Dalam kegiatan penataan tersebut, Korwil bersama tim melakukan pengamatan terhadap sejumlah aspek layout dapur, termasuk penempatan peralatan, ruang penyimpanan bahan baku, area persiapan, area pengolahan, area pencucian, tempat pengemasan, hingga jalur keluar-masuk makanan.
Baca Juga: Merdeka Ekspor Durian, Komoditas Pertanian Sulteng Siap Tembus Pasar Mancanegara
Penataan dilakukan dengan mempertimbangkan prinsip alur produksi satu arah, sehingga pergerakan bahan mentah dan makanan matang dapat dikendalikan dan tidak saling bersinggungan secara tidak perlu.
Konsep tersebut menjadi penting untuk meminimalkan potensi kontaminasi silang, terutama antara bahan pangan mentah, makanan yang telah dimasak, peralatan, dan lingkungan kerja.
Selain itu, penempatan fasilitas juga perlu mempertimbangkan kemudahan petugas dalam bekerja. Dapur yang tertata dengan baik diharapkan dapat mengurangi pergerakan yang tidak diperlukan dan membuat setiap tahapan pekerjaan lebih mudah diawasi.
Baca Juga: Keracunan MBG Bukan Hanya Soal Bakteri dan SOP : Ada Apa Dibalik Dapur?
Melalui penataan dan evaluasi yang dilakukan secara berkelanjutan, Korwil Moh Fahri mendorong seluruh SPPG di Kabupaten Parigi Moutong untuk terus melakukan perbaikan dan memastikan standar dapur terpenuhi demi mendukung penyelenggaraan MBG yang aman, bergizi, higienis, dan berkelanjutan.***