berita-terkini

Tiga Wakil Menteri Hadiri Peluncuran BERANI MAGAYA di Untad, Sulteng Bidik Bebas TBC

Minggu, 23 Agustus 2026 | 08:12 WIB
Momen peluncuran BERANI MAGAYA di Auditorium Universitas Tadulako yang dihadiri tiga wakil menteri, Gubernur Sulteng, pimpinan perguruan tinggi, dan sejumlah kepala daerah se-Sulawesi Tengah. (Junaidi )

SekitarSulteng.com, Palu – Auditorium Universitas Tadulako (Untad) menjadi saksi lahirnya gerakan kolaboratif baru dalam upaya pemberantasan tuberkulosis (TBC) di Sulawesi Tengah. Program BERANI MAGAYA resmi diluncurkan dalam rangkaian puncak Dies Natalis ke-9 Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Untad, Sabtu (22/8/2026).

Peluncuran program ini mendapat perhatian besar dari pemerintah pusat dengan hadirnya Wakil Menteri Dalam Negeri Komjen Pol (Purn) Dr. H. Akhmad Wiyagus, S.I.K., M.Si., M.M., Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi Fauzan, serta Direktur Pelayanan Kesehatan Primer Kementerian Kesehatan RI dr. Yanti Herman, S.H., M.H.Kes. yang mewakili Kementerian Kesehatan.

Selain itu, hadir pula Gubernur Sulawesi Tengah Dr. H. Anwar Hafid, M.Si., Wakil Gubernur Dr. Reny A. Lamadjido, Sp.PK., M.Kes., para kepala daerah, pimpinan perguruan tinggi negeri dan swasta se-Sulawesi Tengah, serta jajaran dinas kesehatan dari berbagai kabupaten dan kota.

Berbeda dari program kesehatan pada umumnya, BERANI MAGAYA hadir dengan melibatkan langsung perguruan tinggi sebagai bagian dari solusi. Program yang merupakan singkatan dari Berantas Infeksi TBC, Mahasiswa Jaga dan Sayang Keluarga itu akan menggerakkan mahasiswa dan dosen untuk mendampingi pasien TBC serta keluarganya.

Rektor Untad Prof. Dr. Amar, S.T., M.T., IPU., ASEAN Eng. mengatakan, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral untuk hadir membantu menyelesaikan persoalan yang dihadapi masyarakat.

Menurutnya, melalui konsorsium perguruan tinggi se-Sulawesi Tengah, kampus tidak hanya berperan dalam pendidikan dan penelitian, tetapi juga terlibat langsung dalam pengabdian kepada masyarakat melalui pendampingan pasien TBC.

"Kampus harus menjadi bagian dari solusi. Karena itu, melalui BERANI MAGAYA kita membangun kekuatan kolaborasi untuk mendukung percepatan eliminasi TBC di Sulawesi Tengah," katanya.

Ia mengungkapkan, program tersebut melibatkan 1.073 mahasiswa dan 155 dosen dari tujuh perguruan tinggi di Sulawesi Tengah.

Mereka akan melakukan edukasi kepada keluarga pasien, membantu meningkatkan kepatuhan pengobatan, sekaligus memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa TBC dapat disembuhkan apabila ditangani secara tepat.

Prof. Amar juga mengingatkan pentingnya menghilangkan stigma terhadap pasien TBC.

"Yang harus kita lawan adalah penyakitnya, bukan orangnya," tegasnya.

Sementara itu, Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid menyambut baik lahirnya BERANI MAGAYA dan menyebutnya sebagai bentuk nyata kolaborasi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan sektor kesehatan.

Menurut Anwar, keberhasilan penanganan TBC hanya dapat dicapai apabila seluruh pihak bergerak bersama sebagaimana yang ditunjukkan oleh sinergi tiga kementerian yang hadir dalam peluncuran program tersebut.

Ia bahkan menargetkan Sulawesi Tengah dapat terbebas dari TBC dalam tiga tahun ke depan.

"Saya bersama para bupati akan terus berkoordinasi dengan perguruan tinggi negeri dan swasta di Sulawesi Tengah serta seluruh jajaran kesehatan agar program ini berjalan dengan baik. Kita berkomitmen dalam tiga tahun ke depan Sulawesi Tengah bebas TBC," ujarnya.

Halaman:

Tags

Terkini